Pencarian Berita
Berita Terkini
-
# 4
-
# 5
Pengujian Penetrasi Aspal: Pilar Utama Kontrol Kualitas Perkerasan Jalan
- 23 April 2026
- 112 Lihat
Di balik mulusnya proyek jalan dan kokohnya bangunan di Kalimantan Selatan, ada peran vital dari UPTD Laboratorium Bahan Konstruksi Dinas PUPR Provinsi Kalimantan Selatan. Mereka bukan sekadar tempat menguji sampel; mereka adalah penjaga mutu yang memastikan setiap material siap menghadapi tantangan iklim dan beban lalu lintas Banua.

Salah satu "ritual" wajib yang mereka lakukan adalah Pengujian Partikel Pipih dan Panjang Agregat menggunakan standar ketat SNI 8287:2016.
Agregat kasar (kerikil atau batu pecah) adalah tulang punggung dari campuran beton dan aspal. Bentuk ideal agregat adalah kubikal—bulat atau bersudut sama—karena bentuk ini mudah saling mengunci (interlocking) dan memberikan kepadatan yang maksimal saat dipadatkan.
Namun, tidak semua agregat sempurna. Partikel yang terlalu pipih (seperti kerupuk) atau terlalu lonjong (seperti pensil) sering disebut "butiran peang" atau flat and elongated particles.
Lalu, apa bahayanya jika kerikil di Kalsel kebanyakan "peang"?
Susah Padat (Sulit Kompaksi): Butiran peang cenderung menyisakan rongga udara besar di sekitarnya. Ini membuat campuran aspal susah mencapai kepadatan maksimal, yang berujung pada jalan mudah retak dan berlubang.
Gampang Patah: Partikel pipih dan lonjong memiliki titik lemah yang mudah patah saat terkena gilingan berat. Jika mereka patah, gradasi agregat akan berubah, dan kualitas jalan yang sudah dibangun akan menurun drastis.
Daya Dukung Rendah: Dalam Lapisan Pondasi Agregat (LPA), kandungan agregat pipih yang tinggi terbukti menurunkan nilai CBR (California Bearing Ratio), yang berarti daya dukung jalan juga melemah.
UPTD Laboratorium Bahan Konstruksi Kalsel menggunakan SNI 8287:2016 sebagai panduan untuk mengidentifikasi "penjahat" agregat ini.
Prinsip kerjanya sederhana namun krusial:
Alat Khusus: Teknisi menggunakan alat yang disebut Jangka Ukur Proporsional (Proportional Caliper Device) . Alat ini memiliki dua bukaan dengan rasio dimensi tetap, misalnya 5:1.
Penghitungan Rasio: Setiap butiran agregat diuji satu per satu. Jika panjang butiran dibagi dengan tebal butiran hasilnya lebih besar dari rasio yang disyaratkan (misalnya, $5$), maka butiran itu diklasifikasikan sebagai "Pipih dan Lonjong".
Toleransi Mutu: Spesifikasi modern (khususnya untuk jalan berstandar tinggi seperti Superpave) mensyaratkan persentase agregat pipih dan lonjong harus di bawah batas tertentu, seringkali kurang dari 10% berdasarkan massa total agregat.
Dengan menerapkan metode ini, UPTD Lab Bahan Konstruksi Kalsel memastikan bahwa material yang digunakan pada proyek infrastruktur Banua memiliki bentuk butiran yang optimal, menjamin jalanan yang lebih awet, kuat, dan minim perawatan. Ini adalah bentuk nyata komitmen Dinas PUPR dalam mewujudkan infrastruktur berkualitas dan berkelanjutan di Kalimantan Selatan.